Sebelumnya gw minta maaf gan karena gw posting tulisan ini bilamana ada pihak-pihak yang tersinggung ataupun merasa dilecehkan atau dihina, tapi gan gw posting kayak begini biar pihak-pihak yang merasa atau merasa diri agar supaya dapat kembali ke 'jalan yang benar' atau setidaknya ikut andil dalam meluruskan pihak-pihak atau manusia-manusia "Tukang Olah". Sungguh sangat ironis sekali gan dalam kota yang sedang berkembang dan bahkan mengusulkan juga untuk dijadikan sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang notabene menggantikan kota Jakarta, namun dalam hal ini sangat disayangkan sekali dengan perilaku beberapa warganya yang suka "Mengolah" terhadap warga pendatang. Perlu diketahui gan "Olahan" mereka itu tidak tanggung-tanggung dan gw kira hal ini sangat menyakitkan alih-alih mereka berkata bahwa hal itu lumrah atau sudah biasa namun bagi gw gan hal ini tidaklah lazim dan sangat merugikan bagi pihak yang kena "Olah".
Ceritanya begini gan waktu itu tahun 2009 gw dapat penempatan kerja di wilayah Sumatera tepatnya di kota Pekanbaru, waktu pertama kali gw datang gw rasa kota ini begitu manis dan gw pikir kehidupan kota ini tidaklah jauh berbeda dengan kota lama tempat gw tinggal yaitu Bintaro Jakarta Selatan. Baru hari pertama gw beli makanan nasi bungkus waktu itu kalo ga salah gw beli deket 'jalan panger' Nasi plus telur dadar harganya Rp. 9.000,- gw langsung kaget minta ampun gan, biasanya gw beli makanan yang sama di Bintaro Jakarta Selatan itu harganya masih sekitar Rp. 2.500,- s/d Rp. 3.500,- tetapi di Pekanbaru harganya sudah Rp. 9.000,- awalnya gw langsung berpikir wah ini biaya hidup disini bisa 3x lipat lebih besar daripada hidup di Jakarta nah setelah beberapa lama gw tinggal di kota ini hari berganti hari dan tahun pun berganti ada sesuatu yang gw rasa yaitu ketika gw tinggal di kawasan bintaro gw merasa lingkungannya "Tidak merasa Panas" namun sungguh beda bila tinggal di kota ini gw sepertinya "Merasa Panas" mohon maaf dalam hal ini gw tidak mengatakan bahwa karena suhu udara di kota ini memang panas karena gw pikir itu adalah alamiah sehingga tidak perlu dibahas, tapi gw "merasa panas" karena ketika gw mau berinteraksi dengan lingkungan terkadang sepertinya mereka tuch pengen "mengolah" kita sebagai warga pendatang khususnya dalam bidang keuangan. salah satu contohnya begini gan waktu itu gw disuruh ama senior gw untuk menambah angin bola voly untuk kegiatan rutin olahraga di kantor gw, nah saat itu langsung aja gw pergi ke tempat bengkel tambal/tempel bana ketika gw udah selesai ngisi tambah anginnya gw nanya ama si orang tambal/tempel bana bara iko bang? (berapa ini bang?) nah masak cuman tambah sedikit angin untuk satu bola voly saja dia ngasih harga Rp. 2.000,- per bola wah langsung aja gw sedikit emosi dan gw katakan wah itu kemahalan bang akhirnya karena gw ga mau ribut langsung aja gw bayar untuk harga 4 bola tersebut dengan Rp. 4.000,- tapi dari situ gw berpikir wah harus hati-hati dan waspada juga hidup di kota ini yach...
Rabu, 29 September 2010
Senin, 27 September 2010
KETIKA JIWA TERGUNCANG
Akhir akhir ini kumerasa bahwa semuanya tidak begitu jelas, aku pun tak kuasa akan hal-hal yang terjadi dibelakangan hari ini. Ketika jiwaku menetap pada satu jalan yang seharusnya untuk kulalui namun ditengah perjalanan itupun aku harus mengalami beberapa kali kejatuhan yang sangat menyiksa alam bathinku, aku tak tahu harus bagaimana lagi bertindak upaya agar aku bisa kembali ke jalan semula yang terlindungi.
Aku...aku...aku sebenarnya tak menginginkan hal ini terjadi pada kehidupanku, dimana noda-noda hitam ini terasa begitu berat bagiku untuk melanjutkan langkah selanjutnya dalam kehidupan selanjutnya. Semangat hidup yang dilahirkan dari tetesan demi tetesan air suci hingga termasuki oleh zat zat alam yang mengembangkan jasad dan rohani kini setelah beberapa tahun telah mulai memudar. Berbagai obat-obatan kimia telah merasuki jasadku dan menyebar bagaikan darah yang tersebar di seluruh tubuhku. Dan kini aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dunia ini kupandang sebagai lembaran putih yang disekelilingnya terdapat beberapa tinta dengan beberapa corak warna yang ada, aku mengira bahwa andaikan aku menaburi lembaran putih tersebut dengan berbagai warna dan corak yang ramai maka apa yang akan terjadi? pastilah lembaran tersebut bukan lagi lembaran putih melainkan sudah berbentuk lembaran yang "Amburadul" alias sudah tidak karuan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan ini pada mulanya adalah bersih, putih, harum, dan suci namun seiring dengan berjalannya waktu sadar atau tidak sadar pada akhirnya kita tidak akan bisa kembali ke bentuk semula.
Dunia ini secara nyata hanya ada 2 perbedaan diantara berbagai keadaan seluruhnya, mungkin yang paling terpampang adalah kehidupan si Kaya dan si Miskin. Pada dasarnya semua manusia tidak mau untuk miskin apalagi menderita, namun terkadang realitalah yang harus terjadi dengan adanya kekayaan dan kemiskinan. Berbagai upaya dan daya telah teruraikan dengan segenap kerja keras untuk menggapai impian namun apa daya apabila tak tercapai, aku hanya berharap di suatu saat akan ada jalan untuk menjadi yang lebih baik.
Siang dan malam kulalui dengan perasaan kalut tak menentu, kutelan obat penenang namun jiwaku tetap terguncang bahkan semakin hari semakin dahsyat. Aku tak tahu mungkin aku sudah salah jalan semenjak aku remaja dan kini hanya penyesalan yang kualami tanpa menemukan cara untuk menambalnya. Aku sudah capek, aku sudah penat dan aku sudah bosan dengan ini dan itu, aku ingin sebuah perubahan dalam jalan hidupku, aku ingin sebuah reinkarnasi, aku ingin mulai dari awal lagi.
Tuhan, aku berharap tidak akan ada lagi jiwa-jiwa yang terguncang di dunia ini akibat ketidak kuasaan kami terhadap apa yang kami tempuh dan impikan. Semoga saja semuanya bisa teratasi..Amieeen
Aku...aku...aku sebenarnya tak menginginkan hal ini terjadi pada kehidupanku, dimana noda-noda hitam ini terasa begitu berat bagiku untuk melanjutkan langkah selanjutnya dalam kehidupan selanjutnya. Semangat hidup yang dilahirkan dari tetesan demi tetesan air suci hingga termasuki oleh zat zat alam yang mengembangkan jasad dan rohani kini setelah beberapa tahun telah mulai memudar. Berbagai obat-obatan kimia telah merasuki jasadku dan menyebar bagaikan darah yang tersebar di seluruh tubuhku. Dan kini aku tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dunia ini kupandang sebagai lembaran putih yang disekelilingnya terdapat beberapa tinta dengan beberapa corak warna yang ada, aku mengira bahwa andaikan aku menaburi lembaran putih tersebut dengan berbagai warna dan corak yang ramai maka apa yang akan terjadi? pastilah lembaran tersebut bukan lagi lembaran putih melainkan sudah berbentuk lembaran yang "Amburadul" alias sudah tidak karuan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan ini pada mulanya adalah bersih, putih, harum, dan suci namun seiring dengan berjalannya waktu sadar atau tidak sadar pada akhirnya kita tidak akan bisa kembali ke bentuk semula.
Dunia ini secara nyata hanya ada 2 perbedaan diantara berbagai keadaan seluruhnya, mungkin yang paling terpampang adalah kehidupan si Kaya dan si Miskin. Pada dasarnya semua manusia tidak mau untuk miskin apalagi menderita, namun terkadang realitalah yang harus terjadi dengan adanya kekayaan dan kemiskinan. Berbagai upaya dan daya telah teruraikan dengan segenap kerja keras untuk menggapai impian namun apa daya apabila tak tercapai, aku hanya berharap di suatu saat akan ada jalan untuk menjadi yang lebih baik.
Siang dan malam kulalui dengan perasaan kalut tak menentu, kutelan obat penenang namun jiwaku tetap terguncang bahkan semakin hari semakin dahsyat. Aku tak tahu mungkin aku sudah salah jalan semenjak aku remaja dan kini hanya penyesalan yang kualami tanpa menemukan cara untuk menambalnya. Aku sudah capek, aku sudah penat dan aku sudah bosan dengan ini dan itu, aku ingin sebuah perubahan dalam jalan hidupku, aku ingin sebuah reinkarnasi, aku ingin mulai dari awal lagi.
Tuhan, aku berharap tidak akan ada lagi jiwa-jiwa yang terguncang di dunia ini akibat ketidak kuasaan kami terhadap apa yang kami tempuh dan impikan. Semoga saja semuanya bisa teratasi..Amieeen
Langganan:
Postingan (Atom)