Rabu, 29 September 2010

" TUKANG OLAH "

Sebelumnya gw minta maaf gan karena gw posting tulisan ini bilamana ada pihak-pihak yang tersinggung ataupun merasa dilecehkan atau dihina, tapi gan gw posting kayak begini biar pihak-pihak yang merasa atau merasa diri agar supaya dapat kembali ke 'jalan yang benar' atau setidaknya ikut andil dalam meluruskan pihak-pihak atau manusia-manusia "Tukang Olah". Sungguh sangat ironis sekali gan dalam kota yang sedang berkembang dan bahkan mengusulkan juga untuk dijadikan sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang notabene menggantikan kota Jakarta, namun dalam hal ini sangat disayangkan sekali dengan perilaku beberapa warganya yang suka "Mengolah" terhadap warga pendatang. Perlu diketahui gan "Olahan" mereka itu tidak tanggung-tanggung dan gw kira hal ini sangat menyakitkan alih-alih mereka berkata bahwa hal itu lumrah atau sudah biasa namun bagi gw gan hal ini tidaklah lazim dan sangat merugikan bagi pihak yang kena "Olah".
Ceritanya begini gan waktu itu tahun 2009 gw dapat penempatan kerja di wilayah Sumatera tepatnya di kota Pekanbaru, waktu pertama kali gw datang gw rasa kota ini begitu manis dan gw pikir kehidupan kota ini tidaklah jauh berbeda dengan kota lama tempat gw tinggal yaitu Bintaro Jakarta Selatan. Baru hari pertama gw beli makanan nasi bungkus waktu itu kalo ga salah gw beli deket 'jalan panger' Nasi plus telur dadar harganya Rp. 9.000,- gw langsung kaget minta ampun gan, biasanya gw beli makanan yang sama di Bintaro Jakarta Selatan itu harganya masih sekitar Rp. 2.500,- s/d Rp. 3.500,- tetapi di Pekanbaru harganya sudah Rp. 9.000,- awalnya gw langsung berpikir wah ini biaya hidup disini bisa 3x lipat lebih besar daripada hidup di Jakarta nah setelah beberapa lama gw tinggal di kota ini hari berganti hari dan tahun pun berganti ada sesuatu yang gw rasa yaitu ketika gw tinggal di kawasan bintaro gw merasa lingkungannya "Tidak merasa Panas" namun sungguh beda bila tinggal di kota ini gw sepertinya "Merasa Panas" mohon maaf dalam hal ini gw tidak mengatakan bahwa karena suhu udara di kota ini memang panas karena gw pikir itu adalah alamiah sehingga tidak perlu dibahas, tapi gw "merasa panas" karena ketika gw mau berinteraksi dengan lingkungan terkadang sepertinya mereka tuch pengen "mengolah" kita sebagai warga pendatang khususnya dalam bidang keuangan. salah satu contohnya begini gan waktu itu gw disuruh ama senior gw untuk menambah angin bola voly untuk kegiatan rutin olahraga di kantor gw, nah saat itu langsung aja gw pergi ke tempat bengkel tambal/tempel bana ketika gw udah selesai ngisi tambah anginnya gw nanya ama si orang tambal/tempel bana bara iko bang? (berapa ini bang?) nah masak cuman tambah sedikit angin untuk satu bola voly saja dia ngasih harga Rp. 2.000,- per bola wah langsung aja gw sedikit emosi dan gw katakan wah itu kemahalan bang akhirnya karena gw ga mau ribut langsung aja gw bayar untuk harga 4 bola tersebut dengan Rp. 4.000,- tapi dari situ gw berpikir wah harus hati-hati dan waspada juga hidup di kota ini yach...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar